IBU, TULANG PUNGGUNG KELUARGA.

Oleh Julivera Marbun. Editor Pinondang Situmeang.

Tulang punggung adalah penyangga tubuh agar tetap tegak. Dan biasanya tulang punggung adalah bapak. Tetapi jika bapak berhalangan, maka Ibu akan menggantikannya. Kemudian jadilah Ibu tulang punggung keluarga.

Bapak, memulai usaha.

Setelah menikah mereka pindah di rumah kosong milik tetangga. Dan begitulah kebiasaan orang Batak, hidup mandiri.. Karena kemiskinan, mereka hanya petani sawah bagi hasil. Tetapi karena panen tidak menentu, maka bapak sendiri mencoba hidup di Jakarta. Dan disana hanya sebulan karena tidak ada pekerjaan yang cocok. Kemudian pulang kampung, kembali ke sawah.

Sejak anak ketiga lahir, mereka kewalahan membawa ketiganya kesawah. Melihat itu, Ompung dari Ibu kasihan dan mengajari bapak menjadi Agen kerbau. Disamping itu juga menjalankan kilang padi milik ompung. Karena usia tidak sanggup lagi mengelolanya.

Walaupun di kampung kilang ada 3, kilang kami tidak pernah sepi. Bahkan sejak usia 6 tahun saya ikut bantu. Misalnya, antar jemput padi yang mau digiling. Dengan demikian penghasilan upah giling cepat bertambah. Tetapi harga penjualan ke pengepul sering rendah. Oleh karena itu ibu menjualnya ke pasar mingguan. Dia menumpang mobil orang lain. Dan juga sebagai pedagang beras.

Karena merasa disaingi, pemilik mobil tersebut hanya mengijinkan membawa beberapa karung. Ibu merasa rugi kalau begitu. Mana harus bayar ongkos , makan dan waktu sehari penuh. Satu yang selalu diingatkan ibu ” lakukanla dengan jujur”. Selalu lakukan yang terbaik. Lalu menambahkan berapapun saingan, tidak jadi penghalang berkat Tuhan.

Akhirnya, bapak mengumpulkan modal untuk membeli Kijang bekas. Modalnya dari menjual 2 ekor kerbau dan tabungan ibu. Lalu diadakan pembagian tugas. Bapak merangkap supir dan kernek. Sedang ibu yang jualan. Kemudian beberapa bulan permintaan beras meningkat. Lalu bapak membeli truk. Itulah periode bapak menjadi tulang punggung keluarga.

Ibu, tulang punggung keluarga.

Ibu, tulang punggung keluarga

Beberapa tahun setelah tulang punggung keluarga, bapak sakit. Yaitu sakit jantung serta pasang ring. Juga tahun lalu kena ginjal dan paru paru. Kini sedang diobservasi. Itulah asal Ibu menjsdi tulang punggung keluarga. Ibu terpaksa bekerja keras untuk menanggung semua biaya. Disamping pengobatan bapak. Dan juga biaya sekolah 2 anak kuliah di Medan dan 2 anak SMP dan SMA. Karena begitulah budaya Batak yang memperjuangkannpendidikan anak setinggi tingginya Seperti bunyi lagu :”Anakkonhi do hamoraon di au”. Artinya, anak adalah kekayaan.

Setelah 12 tahun biaya tetap untuk obat rutin dan kontrol ke Pematang Siantar dan Medan . Dan ibu tidak pernah mengeluh dan sakit sebagai tulang punggung keluarga diusia 63 tahun.

Ibu tidak hanya menanggung keluarga kecil kami. Tetapi juga untuk keluarga besar. Misalnya, 2 tahun lalu, mendampingi anak mendiang adik bapak yang yatim wisuda di Medan. Lalu tahun 2019 ini mengantar berkas putrinya ke Jakarta jadi PNS Guru SMA Negeri. Dan juga mendampingi adikwisuda di Jakarta. Dan tahun depan si bungsu masuk kuliah. Disamping itu ibu juga ikut memperhatikan 5 orang anak yatim adik bapak dan istrinya jika ada yang membutuhkan.

Semoga Tuhan memberikan kesehatan, panjang umur dan bahagia ya bu.

Baca juga : MIMPI JADI SARJANA DARI AMPUNG DI SUMATERA UTARA.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of