Otak Jahudi Bapak dalam berbisnis.

Oleh Alex Meliala. Editor Pinondang Situmeang

Warga Jahudi dikenal piawai dalam berbisnis. Dan warga Amerika asal Israel menguasai banyak bisnis disana. Oleh karena itu kita belajar sisi positif dari mereka. Sama halnya dengan otak Jahudi Bapak dalam berbisnis

Otak Jahudi kakek.

Otak Bapak membeli beras pakai truk.

Pada awal pernikahan bapak lumayan sulit. Karena harus tinggal jauh dari perkampungan. Untuk kebutuhan hidup mereka memelihara ayam. Lalu telornya ditukar dengan beras. Dan bapak mulai menanam cengkeh, nenas, padi. Dan juga beternak babi.

Pertengahan thn 1970 tumbuh permintaan jagung dari Medan. Yaitu untuk pakan ternak. Kakek dan petani kampung menanam jagung. Akibatnya waktu panen kakek menggerutu karena harga rendah dari pedagang. Lalu kakek berkata kepada Bapak :”Kenapa bukan kamu saja menjualnya ke Medan”. Darah militer Bapak menerima tantangan tsb. Dan itulah awal bapak mulai berbisnis.

Berhubung bapak mulai bisnis diperlukan modal. Oleh karena itu Otak Jahudi Bapak berfikir keras. Lalu mengijon padi dari Saudara sendiri. Dan itulah modal awal berdagang hasil bumi dan menyewa tanah. Disamping itu Ibu juga membuka usaha jahitan. Tempatnya menumpang di rumah family.

Strategy bisnis bapak.

Pada awal thn 1980an harga cengkeh panen Bapak lumayan tinggi. Dan bapak juga menanam ubi kayu. Untuk itu bapak memberanikan diri membeli truk colt diesel. Kali ini patungan dengan adiknya (bapak Uda). Sayang perkongsian kedua kakak adik itu berakhir. Sebabnya adalah bpk Uda mengambil beras atas nama bapak. Akibatnya jadi masalah. Soalnya wajah mereka bak pinang dibelah dunia. Akibatnya bpk Uda pisah dan meminta bagiannya.

Namun otak Jahudi bapak memata matai kemana uang bagiannya digunakan. Setelah diketahuinya, uang itu dia pinjam kembali. Lalu bpk Uda komentar :”Begitulah bapakmu pintarnya”, katanya.

Setelah berdiri sendiri otak bapak punya rencana besar. Pertama, mendirikan badan usaha UD UNION. Kedua, menyewa rumah untuk usaha kelontong ibu. Ketiga, membuka gilingan padi bersama penduduk kampung. Terakhir mengurus sertifikat untuk agunan kredit. Oleh sebab itu bapak disebut pelopor di kampung. Contohnya, bapak menyewa tanah yang luas untuk menanam uubi kayu. Orang kampung tertawa cara berfikir bapak. Untuk apa menanam ubi selebar itu. Tapi setelah panen baru tahu untuk fabrik tapioka di P.Siantar.

Lebih jauh cara kerja bapak seperti Jepang. Ini diwarisi dari kakek yang kerjanya seperti Jepang. Misalnya bisa membagi waktu walau usahanya di tiga tempat yang berjauhan. Untuk itu kakek membuat gubuk untuk pendatang yang bekerja diladangnya.

Otak bisnis buat sertifikat.

Bapak beli truk dengan kredit Bank

Dari hasil usaha bapak berhasil beli lapak dan membangunnya. Serta digunakan untuk usaha dan tempat tinggal. Letaknya tidak jauh dari tempat sewa. Sehingga tidak masalah bagi pelanggan. Selanjutnya, mengajak Sdr dan temannya mengurus Sertifikat. Gunanya untuk mengajukan kredit ke Bank. Dapatnya cukup besar masa itu, Rp 100 juta. Pada hal masyarakat masih tabu kredit ke Bank.

Kemudian dengan bertambahnya modal mengganti truk Fuso dengan kapasitas lebih besar. Sehingga satu minggu dapat mengangkut 30 ton ( 1000 zak beras @30 kg). Yaitu hasil bumi ke Medan. Sebaliknya, pupuk, kelontong dan material bangunan. Selanjutnya ekspansi wilayah usaha dengan merekrut agen disetiap kampung.Bahkan ekspansi sewa toko di dua kota kecamatan. Bukanya setiap hari pasar. Pada thn 1990an bapak sudah punya 2 truk. Dan juga gudang yang besar, kapasitas 100 ton.

Grafik bisnis bapak menurun.

Bapak yang penuh ide bisnis

Ada masa pasang dan ada masa surut. Pada awal 1990an adalah masa kejayaan. Bahkan sampai bisa menghandle pasar di 2 kecamatan. Ekspansi berhasil karena agen senang, pembayaran dikutip sekali seminggu. Dan agen senang dapat komisi.

Usahapun melemah sejak Bupati kabupaten Dairi berpulang mendadak Bupati ini teman bapak di SMP dulu. Bupati mengajak kerjasama di 2 usaha. Pertama pohon kayu putih eukaliptus. Kedua, usaha angkutan CV MELIALAJAYA.

Akhirnya bapak stress karena perjanjian dengan Bupati belum clear. Sedang modal yang masuk lunayan besar. Kemudian otak Jahudi Bapak tidak berhasil menyelesaikan masalah. Lalu bapak mencari uang dari masyarakat untuk membayar ke Bank. Dan itupun dengan bunga lumayan tinggi.

Bapak sudah menanamkan modalnya di 420 ha pohon kayu putih yang sudah berijin HTI. Rencana pemasarannya terjamin.. Yaitu pohon bagus diolah jadi bahan. Sedang yang jelek dijual glondongan ke PT. Indorayon di Porsea. Adapun usaha angkutan CV MELIALA JAYA masih berjalan hingga saat ini.

Oleh karena tidak tahan dengan perputaran yang kacau. Bapak dan ibu berencana pindah dari kampung. Walau banyak cemoohan, tapi tidak jadi pindah. Masalah teratasi walau tertatih tatih. Kemudian tiba tiba adik perempuan sakit dan harus dioperasi. Untuk itu dibutuhkan biaya pengobatan yang cukup besar. Dan hal itu membuat usaha semakin lemah. Mana lagi toko harus tutup karena ibu menjaga di R.Sakit.

Akhir thn 1990 otak Jahudi bapak membuat ide yang aneh. Pertama menanam sawit. Kedua, jeruk. Pada hal belum ada yang tanam sawit waktu itu. Tapi kemudian ada yang ikut. Dan kami yang tampung hasil panen mereka. Sedang jeruk kurang berhasil karena harga anjlog disaat panen. Diperparah lagi bapak menjadi anggota DPRD thn 199 – 2004.

Sementara disela sela pembicaraan kami bapak berkata :”Aku tidak pernah mati”., katanya. Dan saya akui ide ide bapak tetap hidup. Baik di tengah keluarga maupun masyarakat. Terutama agen agennya yang sekarang menjadi pengusaha sukses tingkat pedesaan.

Sekarang usaha keluarga dialihkan kepada adik bungsu. Badan usaha ditingkatkan jadi PT. Semoga menjadi berkat bagi sesama. Dan semoga dia senang bersama Allah di surga.

Baca juga :MENJAGA KUALITAS DAN KEPERCAYAAN DALAM BERBISNIS.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of