PENGHASILAN TAMBAHAN DI PROPERTY.

Sebagai pegawai tentu gaji terbatas. Oleh karena itu perlu penghasilan tambahan. Dan salah satu sumber penghasilan tambahan adalah property. Misalnya tanah dan bangunan.

Rumah pertama.

Rumah dari penghasilan tambahan

Rumah pertama baru mampu setelah bekerja 8 thn. Dan pada waktu itu usia cukup telat, 38 thn. Karena sebelumnya kami hidup sangat sederhana. Disamping itu mulai menabung secara tertib. Setelah 8 tahun nasib kami baru berubah. Saya diangkat jadi Kep cabang Bank di kota kecil. Karena tidak ada Mal di ujung pulau Timor, kami mampu menyisihkan uang untuk angsuran kredit rumah di Jakarta.

Ketika pendidikan di Jakarta, teman mengajak ke rumah barunya. Lokasinya di centra bisnis di Jakarta Utara. Akibatnya kami menjadi tertarik. Lalu memesan rumah mungil, 120 m. Itulah gunanya berteman dengan lingkungan yang baik. Yaitu sesama Kepala Cabang. Sejak itu prioritas pertama adalah membayar angsuran. Kemudian baru kebutuhan lainnya. Selanjutnya rumah tsb ditempati oleh keluarga.

6 tahun kemudian kami dipindahkan ke Surabaya. Kemudian rumah pertama senilai $ 24.000 tsb dijual sebagai Down payment. Rumah kedua bertambah besar yaitu 240 m dua lantai. Disamping itu lokasinya juga bagus diperumahan terkenal. Dan pembayaran sisanya diangsur secara bulanan.

Mencari penghasilan tambahan.

Pada tahun 1987 dipindah lagi ke Pusat. Karena tugas staff ada cukup waktu luang. Lalu saya manfaatkan untuk mencari Penghasilan tambahan (Passive income). Lalu saya beli tanah murah dibeberapa lokasi kampung. Pertama, 1.000 m di Pondok Aren, Tangsel. Kedua, tanah koperasi 400 m di Depok. Ketiga tanah 6.000 m di pelosok Bekasi. Disebut murah misalnya 1.000 meter hanya Rp 15 juta. Atau sekitar $ 9.300 saat itu. Tentu tanah ini dibeli secara bertahap dalam 8 tahun.

Penghasilan tambahan itu berasal dari kenaikan nilai tanah. Apalagi ada tanah yang lokasinya dekat dengan jalan toll. Perlu diingat bahwa investasi tanah tidak likwid. Atau penjualannya makan waktu lama.

Disamping tanah kosong, kami juga mencari penghasilan dari property. Pertama, diperumahan Karawaci, Tangerang. Kedua, apartemen di Semanggi, Jaksel. Ketiga villa mungil di Cipanas, Puncak. Dan hanya apartemen di Semanggi yang gagal. Karena krismon tidak mampu membayar cicilan dalam US$. Beruntung, uang kembali sebesar $ 25.000. Sedang investasi di villa tidak menguntungkan. Karena harganya tidak meningkat seperti property lain atau tanah.

Penghasilan passive dari property.

Setelah pindah ke Jakarta, rumah di Surabaya dijual. Lalu uangnya menjadi Down payment rumah baru. Kami kembali lagi ke lokasi lama di Jakarta Utara. Rumah 240 m dua lantai itu berada di depan Mal, diangsur ke Bank. Memang agak mahal, tetapi bisa dibayar dari penghasilan sampingan. Dan nilainya cepat naik.

Karena di lokasii bisnis nilai property naik cepat. Oleh karena itu kami lepas lagi. Hasilnya lumayan tinggi, $ 23.700 mampu membeli rumah yang lebih besar., 400 m. Tetapi lokasinya lebih jauh dari Mal. Sekitar 600 m. Bahkan hasil penjualan rumah tsb lebih. Ini juga menjadi penghasilan tambahan. Buat apa dekat Mal, tergoda belanja terus.

Disamping sebagai passive income, rumah tsb digunakan juga untuk bisnis. Yaitu sebagai jaminan kredit untuk bisnis baru.

Karena rumah di hoek tsb terlalu besar karena 3 anak diluar kota. Akhirnya rumah tsb dijual. Dan nilainya naik 400% dibanding sebelumnya. Nilainya sekitar $ 135.000 (kurs Rp 15.000). Uang ini kemudian kami belikan rumah second. Lalu dibongkar dan dibangun baru. Rumah hoek 400 m ini hanya habis 50%nya. Sedang sisanya adalah buat tabungan tambah gemuk.

YANG SEMULA PENGHASILAN SAMPINGAN JADI YANG UTAMA. Sedang uang pensiun bulanan tetap mengalir.

Baca juga : 5 KUNCI SUKSESNYA USAHA

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of