MENITI WAKTU BERSAMAKU.

Disarikan dari tulisan Puji Lestari, Magelang. Editor : Pinondang Situmeang.

Masalah usaha silih berganti seiring waktu. Tetapi masalah akan sirna apabila bersatu. Oleh sebab itu mari meniti waktu bersamaku.

Masa kelabu bersamaku.

Kripik dari daun pegagang masa kin

Masa lalu saya begitu gelap nikah seperti zaman Siti Nurbaya.. Dijodohkan dengan yang berpakaian santri, alumni pesantren. Ketika saya pulang dari pesantren Ayah berkata :”Tgl sekian kamu nikah”. Kemudian satu minggu baru ketemu dengan calon suami.

Pendek cerita, 3 bulan setelah menikah suami dan mertua datang kerumah bapak mau pinjam Rp 10 juta. Bapak jawab :”Tidak ada uang”. Lalu dijawab :”Pinjam Sertifikat selama 6 bulan saja”. Akhirnya Ayah saya bersedia menyerahkannya.

Dilain waktu mertua merayu saya supaya menjual perhiasan saya untuk modal saya dan suami. Setelah dijual usaha itu ternyata tidak ada. Malah saya seperti pembantu di rumah mertua tanpa dibayar.

Selang 2 thn berganti suami yang merayu. Saya disuruh meminta bapak untuk membeli mobil, sewa ruko dan moda usaha. Lalu saya bicara dengan bapak dan ibu. Akhirnya mereka setuju setelah melihat suami pintar jadi sales kue kering produk mertua. Jadi saya dan suami punya usaha sendiri. Saya jaga ruko dan suami keliling.

Setelah itu menjalin hubungan dengan bos bos sukses. Banyak barang yang dihutangi dengan pembayaran tempo. Bersamaan dengan itu sales keliling suami semakin ramai. Dan produk kreaktif saya juga ramai karena tidak dijual di toko toko dan dipasar. Akhirnya usaha kami maju waktu bersamaku hingga punya 8 orang pegawai

Waktu tidak bersamaku.

Minum kopi bersama kripik

Kemudian seorang teman baik, alumni pesantren datang ke ruko. Lalu menawarkan kerja sama. Yaitu dia menyediakan kios pasar dan saya isinya. Dan saya setuju. Anak kiyai itu mengamati cara kerjaku sehingga membuat ramai kios kami. Tiga bulan kemudian dia berbuat curang. Karena tidak ada surat perjanjian. Lalu dia minta sewa Rp 2 juta sebulan. Dan gaji jaga kios Rp 1 juta sebulan. Pada hal tarif kontrak biasanya hanya Rp 500.000 dan gaji Rp 250.000 sebulan. Kalau tidak bersedia agar barangnya diangkat dari kios tsb.

Akhirnya saya pindah ke kios yang lebih besar dan lebih murah dipasar yang sama. Alhamdulillah rezekinya lebih ramai dari kios sebelumnya. Begitulah akibatnya waktu bersamaku lebih ramai.

Tidak begitu lama suamiku datang. Sebelumnya dia sudah kembali bekerja dengan mertua dan ipar. Lalu mereka ambil alih dan ikut jualan di toko saya. Anehnya, setiap ambil barang saya dianggap hutang. Dan semakin lama hutang semakin banyak. Bahkan mencapai Rp 75 juta thn 2010.

Sebaliknya, suami menuntut agar saya cari hutangan. Karena dagangan habis tetapi uang tidak ada. Saya semakin bingung dikejar sales. Karena barang di ruko dan kios hutang semua.

Waktu belakangan.

Bersama bahan kripik

Akibat ikut campur keluarga mertua semua hancur. Suami pergi mencari hutangan dan tidak pernah kemali. Akibatnya orang tua menyalahkan saya dan tetangga mencibir. Oleh karena bingung dan jenuh menganggur. Akhirnya saya berpetualang selama 6 thn. Dari thn 2010 – 2016. Lalu bekerja di beberapa tempat. Pertama, baby sitter di Jakarta. Kedua, garmen di Semarang. Ketiga, kayu lapis di Magelang. Keempat sales kaligrafi di Kendari, Sultra.

Akhirnya thn 2016 hutang lunas, uang tersisa Rp 100.000. Lalu memulai usaha sendiri dari Nol. Yaitu isaha kripik dari daun PEGAGANG.Idenya datang ketika ketemu orang tua di kebun. Mbah kakung sedang mencari daun pegagang untuk obat kakinya. Kakinya bengkak karena diabetes

Kemudian sisa Rp 100.000 dibelikan .tepung minyak dan bumbu dapur. Lalu kripiknya digoreng. Selanjutnya adalah pemasaran.

Kripik pegagang dibungkus plastik sehsrga Rp 1.000. Dititipin penjual keliling. Alhamfulillah habis. Lalu uang dibeli bahan lebih banyak. Dan dijual diwarung tetangga. Habis lagi. Demikian seterusnya hingga 1 kerancang isi 2 kg. Dijual dipasar dengan cara drop pagi dan sore dibayar. Karena laris sistem pembayaran dirubah. Minta 5 keranjang, bayar DP dulu separuh untuk modal.

Akhirnya awal 2017 pasar kripik ini saya kuasai. Dan menawarkan kepada teman teman sales. Semua minta jumlah besar, 10 keranjang. Alhamdulillah thn 2018 masuk Grosir. Rupanya usaha kembali maju tetapi tidak waktu bersamamu.

Meniti waktu sendirian.

Rame bersama produk kripik

Setelah masuk grosir , timbul harapan akan maju. Order berangsur naik. Awalnya 10 keranjang. Seminggu kemudian 20 keranjang. Lalu 60 dan 100 keranjang. Oleh karenakelancaran tsb saya mengadakan syukuran dengan teman teman.

Salah satu teman saya memperkenalkan temannya. Dan minta diajari bisnis. Awalnya dia minta kripik 5 keranjang dan 5 jenis. Lama lama jadi teman akrab seperti adik sendiri. Sampai bantu urusan keluarga. Seperti bantu ibu saya dan jemput anak saya. Lalu saya ajari dia bisnis. Seperti jualan sales di pasar dan kenalkan bakul2 di pasar. Atau kadang kirim kripik ke grosir.

Beberapa kama menjelang puasa nampak dia berubah wajah. Seperti ada rasa takut. Tapi saya anggap biasa saja. Tapi … …setelah lebaran terasa ada yang aneh. Biasanya pemasok sudah mengirim daun pegagang. Tapi sekarang berhenti. Ketika saya tanya mereka minta harga naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000. Kalau tidak akan dijual kepada orang lain. Kemudian saya coba beli ke 3 desa lain. Dan jawabannya sama. Minta harga Rp 30.000. Tentu saja saya tidak mau karena kemahalan.

Sementara itu kebun saya selama puasa dan lebaran tidak pernah saya panen. Lalu saya upah orang untuk panen. Setelah diolah kemudian dikirim ke grosir. Alangkah kagetnya, disana sudah ada kripik yang sama dengan buatan saya. Akhirnya saya tahu siapa yang mengirim kripik tsb. Dia adakah teman saya. Betul betul PAGAR MAKAN TANAMAN.

Baca juga : JANGAN BEKERJASAMA TANPA SURAT PERJANJIAN.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of