BISNIS MODAL NEKAD HINGGA STABIL.

USAHA KONFEKSI. by Fajar Nugroho. Editor: Pinondang Situmeang.

Memulai usaha perlu persiapan matang. Seperti modal, pemasaran, peralatan dll. Tetapi harus langsung action. Jangan hanya perencanaan. Sebaliknya bisnis modal nekad dapat dimulai Lalu diperbaiki sambil jalan. Namun demikian diperlukan waktu dua dekade hingga stabil.

Pesanan kaos dengan DP

Syarat minimum memulai usaha.

Thn 1998 saya mulai bisnis modal nekad dibidang konveksi. Yaitu hanya 1 mesin jahit dan 1 obras. Nilainya Rp 750.000 plus modal nekad. Karena istri bisa jahit, saya pemasaran. Titik. Belum terfikirkan Sablon dan maklon.

Seiring berjalannya waktu ketemu partner baru. Yaitu tukang sablon dan pemilik bahan. Dan pemilik bahan juga ikut memasarkan. Akhirnya produksi disesuaikan dengan order. Pelan pelan tambah mesin jahit dan penjahit.

Perlahan lahan gerbong berjalan. Order dilayani dari bahan yg tersedia. Masalah timbul ketika bahan tidak cocok. Lalu kami minta repeat order disesuaikan dng bahan yang ada di toko di Yogja. Kemudian pada thn pertama dapat order seragam sekolah. Jumlahnya lumayan 750 stel. Lalu di thn kedua meningkat 2 sekolah. Jumlahnya meningkat menjadi 1.500 stel.

Akibatnya timbul masalah. Pertama order tanpa DP. Kedua, penambahan mesin dan tenaga. Ketiga, kenaikan harga bahan. Ini adalah pelajaran yg sangat berat. Harus dijaga jangan sampai merusak kepercayaan yg sudah tumbuh.

Selanjutnya, order mulai datang dari berbagai sekolah. Mulai dari PAUD, TK, SD dan SMP. Dan merambah pakaian sport, kaos dan jacket. Lalu merekrut tenaga sablon. Sekalian belajar nyablon. Persoalan timbul karena order musiman. Pada thn ajaran baru order melonjak dan perlu penjahit. Tapi sesudah itu kerjaan berkurang dan penjahit dikurangi.

DP Atribut partai.

Setiap pesta demokrasi order atribut partai ramai. Pd thn 2014 kami dapat order besar. Yang terbesar sejauh ini. Tetapi order atribut harus extra hati hati. Kenapa ?. Karena kemungkinan pembayaran bermasalah. Rencana untung bisa buntung. Oleh karena itu DP harus besar, misalnya 75%.

Setelah terjadi kesepakatan baru kerja keras. Tugas berat adalah sablon. Terpaksa maklon sablon untuk mengejar produksi. Beruntung istri pintar cutting, sewing, sablon dan finishing. Pengalaman ini sangat berguna untuk fase berikutnya.

Kerjasama dan kredit Bank.

Mesin jahit plus modal nekad

Tahap selanjutnya adalah memperbesar usaha. Pertama, kerjasama 3 orang. Kedua, dengan pinjaman Bank. Awalnya, kerjasama dengan menggunakan bangunan rekan. Untuk itu disediakan sampai 100 mesin. Ternyata kerjasama itu tidak mudah. Apa lagi tidak ada perjanjian Notaris. Oleh karena itu agar bisa fokus, saya mundur. Lebih baik usaha sendiri.

Kebetulan ada Sertifikat menjadi agunan. Tawaran kredit dari Bank diterima. Lalu dibelilah 30 mesin dan 40 pekerja. Tetapi dalam perkembangannya timbul masalah. Yaitu Jumlah mesin kurang memenuhi produksi. Mestinya perlu 35 mesin dengan system CMT (Cut Make and Trim). Akibatnya terpaksa bayar lembur over time. Hal ini diluar perkiraan. Alhamdulillah dapat peluang lain. Dengan karyawan 20 orang dan system CMT produksi dapat dikejar. Dan juga menambah karyawan disamping maklon.

Semua memerlukan jam terbang tinggi dengan belajar otodidak. Ada 3 pengalaman yang bisa dipetik: 1. Dalam kerjasama perlu Akte Notaris. 2. Memperbesar bisnis sendiri perlu perhitungan yg matang. 3. Pinjaman Bank direncanakan penggunaannya. Jangan sampai menyimpang.

Kapan usaha stabil.

Ternyata butuh 20 thn usaha baru stabil. Yaitu dimulai sejak thn 1998. Sekarang tugas saya tinggal jadi sopir. Tugas pertama, mengambil bahan dan mengirim potongan ketempat produksi. Kedua, mengambil kaos jadi dikirim ke gudang untuk disablon dan packing. Sebenarnya, sopir lain pun bisa melakukannya.

Untuk sampai tahap stabil perlu waktu panjang. Dan juga kerja sama 3 team work. Satu team work Sewiing. Dua, team cutting. Dan tiga team Finishing. Setelah bertanya kepada team Sewing : “Berapa produksi per hari?”. “500 – 600 pak”, jawabnya. Sehabis lebaran rencana produksi ditingkatkan 750 – 100 per hari.

Tahap pengembangan selanjutnya adalah meningkatkan produksi. Ide ini munccul justru ketika meninggalkan rutinitas selama 1 bulan ke luar kota. Kita perlu mengevaluasi yang terjadi dalam usaha kita. Bahkan mulai berfikir mencari mitra. Yaitu mitra yang satu visi untuk memproduksi kaos yang ada dalam ide saya.

Baca juga : MEMBANGUN BRANDING PRODUK

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of